Rabu, 29 Februari 2012

Goa Ngerong


Ngerong Gua adalah sebuah gua yang dihuni oleh banyak kelelawar. Dari mulut gua, itu mengalir sungai sangat jelas sehingga kita bisa melihat ribuan ikan yang memiliki hobi aneh. Mereka seperti makan biji kapuk pohon dan tidak berjalan ketika ditahan oleh pengunjung. Ini semacam gua sulit didirikan di daerah lain, apalagi lokasinya berdekatan dengan jalan raya sekitar 30 km dari pusat kota Tuban tenggara dan lokasinya di ibukota Rangel kabupaten.


Gua Ngerong terdapat di kec. Rengel, sesuai namanya adalah lubang dgn panjang 1.8 km. Potensi nya bisa mencapai 30 km.Gua ini adalah gua air, yg harus diarungi dgn perahu karet. Pada kedalaman 1000 meter ditemui air terjun didalam gua.

Terdapat kalelawar yg hidup sampai kedalaman 700 meter. Jutaan kalelawar terlihat spektakular saat beriring keluar pada jam 5 sore. Juga didapati Ikan Bader Bang (Puntius Javanicus), ikan yg dimitoskan sebagai keramat. barang siapa memakan atau membawa pulang, akan dijangkiti penyakit yg tak kunjung sembuh. Alhasil ada ribuan ekor ikan bader dgn ukuran sebesar paha yg bebas berenang hilir mudik tanpa ada yg berani menganggu.
Ikan Keramat di Gua Ngerongribuan pasang-mata di kegelapan
Mitos lainnya barang siapa masuk gua maka dia harus keluar 12 jam berikutnya. Kedua mitos ini membantu gua dan hewan2nya tetap lestari sampai saat ini.Hewan lainnya adalah kura2 putih dgn diamater 1 meter. Juga ikan tanpa mata -buta (khas hewan gua), yg mulai didapati di kedalaman 1000 meter.

Gua2 lainnya di Tuban
Gua Putri Ayu termasuk gua besar dgn tinggi sekitar 10 meter dan panjang 800 meter. Terdiri dari 9 kamar atau lorong yg besar (baru dibuka 6 saja). Ornamen gua nya masih cukup bagus dan ada beberapa bagian yg terus tumbuh.

Air yg keluar dari gua sangat jernih dan dipakai utk keperluan warga. debitnya konstan sekalipun di musim kemarau spt sekarang ini. Saat masuk Ramadhan, penduduk sekitar berbondong2 mandi dan mengisi bekal air minum.

Uniknya air deras ini datang dari dalam gua. Tuhan Maha Pemurah, spt halnya Zam Zam, air di Tuban ini tiba2 saja keluar dari dalam bumi padahal diatasnya adalah dataran dan pegunungan yg terlihat begitu gersang.

Seperti Pacitan, kabupaten Tuban juga menyimpan sejuta pesona keindahan perut bumi. Tidak kurang terdapat 56 gua yg sudah terdata. Dua diantaranya ada di dlm foto ini .Gua Ayu adalah gua yg baru dibuka dlm 2 tahun terakhir, terletak di kawasan hutan jati perhutani di Kec. Montong. Jalan aspal mulus, dgn 3km terakhir jalan makadam.

Selasa, 28 Februari 2012

Goa Akbar

GOA AKBAR



- Tidak seperti layaknya goa alam lain yang berlokasi di tempat terpencil, Gua Akbar yang merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Tuban berada tepat di bawah pasar rakyat. Ramainya aktifitas jual beli di pasar sungguh sangat kontras dengan suasana hening diselingi gemercik air saat berada di dalam gua ini. Didalam gua ini juga dibangun sebuah kolam air tawar dengan menempatkan ikan mas didalamnya, otomatis hal ini memberikan nilai tambah tersendiri bagi pengunjung saat mengunjungi objek wisata ini.
Nama Akbar konon berasal dari nama sebuah pohon yang tumbuh didepan gua, yakni pohon Abar. Namun sumber lain menyebutkan nama Akbar tersebut diberikan oleh pemerintah Kabupaten Tuban yang merupakan akronim dari Aman, Kreatif, Bersih, Asri dan Rapi yang tak lain dan tak bukan adalah merupakan slogan dari Kabupaten Tuban itu sendiri.

Gua Akbar itu sendiri memiliki nilai religius. Diceritakan bahwa Sunan Bonang melihat gua ini saat diajak oleh
Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama Raden Mas Sahid. Beberapa tempat di Gua Akbar
dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang pernah bertapa. Seperti ceruk yang diberi nama Pasepen Koro Sinandhi, yaitu tempat pintu yang dirahasiakan. Ceruk ini sangat kecil pintunya. Untuk masuk ke dalamnya, orang dewasa harus merangkak atau sekurangnya membungkuk. Oleh masyarakat sekitar dipercaya prosesi membungkuk ini memiliki makna filosofis yang tinggi, yakni pengunjung diingatkan bahwa di depan mata Allah semua harus merendahkan diri.
Pada sisi lain dari dalam gua terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk melakukan ibadah sholat. Bagian ini memiliki lantai dasar gua yang telah dilapis keramik warna putih dan hitam sebagai penanda barisan sholat. Beberapa pengunjung tampak meluangkan waktu untuk sholat sejenak di tempat ini.
Sebuah ruangan yang cukup luas terdapat pula didalam gua ini diberi nama Paseban Wali yang dipercaya dulunya digunakan oleh para walisongo untuk berkumpul dan menyampaikan ajaran agama Islam. Suatu hal yang harus ditelaah lebih lanjut, mengingat Wali Songo hidup tidak persis pada zaman yang sama.














Namun demikian, Paseban Para Wali itu memang mirip ruang pertemuan. Adanya lubang-lubang di langit-langit goa hingga cahaya matahari masuk dalam bentuk jalur cahaya yang jelas. Stalaktit dan stalagmit juga seakan menjadi hiasan ruangan. Itu ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, seakan menjadi podium bagi pembicara.
Sejak direnovasi pada tahun 1996, Gua Akbar semakin menarik untuk dikunjungi. Jalur jalan didalam gua terbuat dari paving block dengan pembatas pagar besi (sebagian diantaranya telah di krom) pada bagian sisinya tampak memberi kesan bersh dan rapi. Pagar pembatas tersebut sengaja dipasang agar pengunjung tidak sampai mengeksplorasi tanpa arah saat berada didalam gua. Cukup ikuti jalur yang telah dibuat tersebut otomatis seluruh bagian gua bisa dinikmati. Di berbagai tempat dipasang lampu-lampu warna-warni yang walau kurang bisa menunjukkan tekstur goa, namun cukup membuat suasana nyaman.
Jika anda berkunjung ke Kota Tuban, tidak ada salahnya menyempatkan diri untuk mengunjungi objek wisata Gua Akbar. Penataan yang apik dan bersih menjadikan objek wisata ini layak dijadikan objek wisata andalan Kabupaten Tuban.

Museum Kambang Putih

MUSEUM KAMBANG PUTIH
Museum ini terletak di Jl. Kartini No. 3 Tuban, kode pos 62313 Jawa Timur. Museum ini merupakan museum umum yang diselenggarakan oleh pemerintahan kabupaten. Semula bangunan berfungsi sebagai kamar bola. Tanggal dibangun adalah 4 Januari 1984, namun baru difungsikan sejak tanggal 28 Maret 1984. Bangunannya dibuat di atas lahan seluas 150 m2, dibuat satu lantai dengan luas bangunan publik 125 m2. Bangunan ini didirikan berdasarkan SK No 22 Tahun 1984 dengan status kepemilikan tanah milik pemerintah.
Beberapa Koleksi :
Numismatik
Kesenian
Etnografi
Arkeologi
Pra sejarah
Senjata
Naskah kuno
Sejarah
Mata Uang
Keramik
Bedug
Kerang Fosil
Gong
Fasilitas Publik :
Ruang informasi
Ruang pameran tetap
Perpustakaan
Tempat penitipan barang
Toilet
Penunjuk arah (sinage)
Parkir
Cinderamata

Fasilitas Museum :
Ruang administrasi (kantor)
Ruang penyimpanan Koleks

Waktu Buka :
Hari Senin-Kamis : Pukul 07.00s.d 14.00
Hari Jum’at : Pukul 07.00s.d 11.00
Hari Sabtu : Pukul 07.00s.d 12.00
Hari Minggu : Pukul07.00s.d 14.00

Klenteng Kwan Sing Bio

Klenteng ini merupakan salah satu Klenteng yang cukup ramai dikunjungi di wilayah Jawa Timur. Nggak hanya warga Surabaya dan Semarang (banyak mobil letter H dan L) aja yang banyak berkunjung ke sini, tapi bahkan warga dari tetangga sebelah seperti Singapura, Malaysia dan China sendiri terlihat sering berdatangan kemari


Siau Cu di depan lokasi penginapan klenteng Tuban
Quote:Klenteng ini sendiri disebut sebut merupakan satu – satunya kelenteng di Indonesia yang menghadap laut bebas. Menurut denger denger kanan kiri sih, katanya keberadaannya yang berani menantang laut ini, mengartikan bahwa Klenteng ini kuat dan beberapa orang menyebut dengan berdoa disini banyak yang dikabulkan permintaanya, makanya klenteng ini selalu ramai.

Kwan Sing Bio, sebuah kelenteng yang megah di Tuban. Kelenteng ini sangat ramai dikunjungi oleh etnis Tionghoa, konon karena kekeramatannya. Kelenteng ini diklaim sebagai satu-satunya kelenteng di Indonesia yang menghadap laut bebas. Sebenarnya di Tuban terdapat dua kelenteng. Satu kelenteng lagi berada di dekat alun-alun Tuban, Tjoe Ling Kiong. Namun dari sisi luas bangunan dan juga pengunjung, nama Kwan Sing Bio seolah menenggelamkan keberadaan saudara tuanya itu.


Suasana Klenteng Kwan Sing Bio dan Suasana Pantai di Depan Klenteng
Kwan Sing Bio berdiri di tepian laut bukan sebuah perencanaan yang matang, namun sebuah kebetulan dan kedaruratan semata. Paling tidak ini adalah salah satu versi cerita sejarah berdirinya kelenteng megah ini. Dahulu kala, terdapat kelenteng yang berada di Kecamatan Tambakboyo, sekitar 30 kilometer arah barat Kota Tuban. Suatu saat para pengurus kelenteng akan memindahkan arca Kwan Kong menuju daerah Surabaya melalui jalur laut.

Ternyata ketika berada di perairan Tuban, kapal kandas menghantam karang. Berbagai upaya untuk menarik kapal tidak berhasil hingga akhirnya muncul petunjuk untuk membangun kelenteng darurat di pantai Tuban tersebut.

Pada masa orde baru, kelenteng merupakan sebuah rumah ibadah yang diperuntukkan bagi tiga umat agama, karenanya sering dikenal dengan nama TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma), yaitu Budha, Taoisme dan Konghucu. Semangat anti Tionghoa pada masa itu, mengharuskan semua bentuk kebudayaan Tionghoa tidak boleh dipertunjukkan kepada masyarakat umum, bahkan nama pun harus diganti dengan nama Indonesia. Ah… dasar Paman!…

Bangunan kelenteng Kwan Sing Bio terus berkembang, terutama di bagian belakang. Keindahan arsitektur Tiongkok dapat kita saksikan disini, tanpa harus membayar fiskal tentunya. Seperti halnya kelenteng besar di kota lainnya, perayaan Imlek berlangsung sangat meriah di kelenteng ini. Bukan hanya barongsai, wayang tionghoa (wayang titi), pesta kembang api hingga atraksi kungfu pun digelar dan menjadi tontonan gratis bagi masyarakat umum.

Bagi pengunjung yang hendak bermalam tidak perlu khawatir, kelenteng ini menyediakan tempat bermalam gratis yang mampu menampung ribuan pengunjung. Urusan makan juga gampang, kelenteng ini menyajikan makanan gratis setiap harinya.


Siau Cu dan Lukisan di Klenteng 
Soal kemahsyuran kelenteng ini tidak perlu dipertanyakan, buktinya deretan lampu lampion, arca dewa hingga lilin yang terpasang seolah mampu membuktikannya. Beragam nama dan asal daerah pengunjung dapat kita lacak disitu, konon Om Liem dulunya sering berkunjung kesini dan memasang lilin merah yang baru habis setelah menyala selama setahun. Ya, ukuran lilinnya yang menentukan. Disini anda bisa melihat lilin dengan ukuran sepelukan orang dewasa dengan tinggi menjulang hingga dua meter.

Texts

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes